Minggu, 06 Januari 2019

JURNAL LAYOUT TOKO TRADISIONAL DI PEDESAAN



Layout Toko Tradisional di Pedesaan
Layout of Traditional Shops in The Village
Mila Puspita
Jurusan Administrasi Niaga
Abstract
Traditional shops or better known as "stall" is a family owned small business regular-shaped shops, stalls, traditional shops, even a modest restaurant. These traditional store has been around since antiquity, even the Netherlands East Indies during the late 19th century. The concept of the traditional store is simple, i.e., by relying on the relationship between the owner of the stall with the buyer. The average consumer on this traditional store is a local community or commonly referred to with the "neighbors". This led to the traditional stores routinely visited by the buyer.
However, in the era of globalization as it is today, traditional stores are sometimes considered one eye because it's been popping up modern stores (stores) that gives an interesting quote, from discount, interior design and exterior even up to services that can satisfy the consumer. At the moment, the presence of the minimarket is only not only in urban areas, but it has already spread to rural areas. One of the effects of the establishment of the minimart in rural areas i.e. can reduce the turnover of the majority of the traditional shop owners is the local residents in the countryside. Not a few of them who gave up his life on the revenue from the store, therefore, the presence of minimarket very affecting their lives.
One of the efforts that can be made by traditional shop owners to be able to compete with modern stores (stores) is in a way the traditional store redesign them so that it can attract the attention of the community. Therefore, traditional shops will never won compete with minimart if nothing changes. With the reform of the new layout is expected to be one of the solutions to traditional shops to be able to compete with the minimart.
Key words: traditional Shops, Store Layout
Abstrak
Toko tradisional atau yang lebih dikenal dengan sebutan “warung” merupakan usaha kecil milik keluarga yang biasa berbentuk kedai, kios, toko tradisional, bahkan restaurant sederhana. Toko tradisional ini sudah ada sejak jaman dahulu, bahkan pada masa Hindia-Belanda akhir abad ke-19. Konsep toko tradisional ini sangatlah sederhana, yaitu dengan mengandalkan relasi antar pemilik warung dengan pembeli. Rata-rata konsumen pada toko tradisional ini merupakan masyarakat sekitar yang ada atau yang biasa disebut dengan “tetangga”. Hal ini menyebabkan toko tradisional ini rutin dikunjungi oleh pembeli.
Namun, di era globalisasi seperti sekarang ini, toko tradisional kadang kala dipandang sebelah mata dikarenakan sudah bermunculan toko-toko modern (minimarket) yang memberikan penawaran yang menarik, mulai dari diskon, desain interior dan eksterior bahkan sampai pada pelayanan yang dapat memuaskan konsumen. Pada saat ini, kehadiran minimarket tidak saja hanya berada di daerah perkotaan, tetapi sudah menjalar ke daerah pedesaan. Salah satu dampak dari berdirinya minimarket di pedesaan yakni dapat mengurangi omset para pemilik toko tradisional yang mayoritas merupakan penduduk lokal di pedesaan. Tidak sedikit dari mereka yang menggantungkan hidupnya pada penghasilan dari toko yang dimilikinya, oleh sebab itu, kehadiran minimarket sangat mempengaruhi kehidupan mereka.
Salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh pemilik toko tradisional untuk dapat bersaing dengan toko-toko modern (minimarket) adalah dengan cara mendesain ulang toko tradisional yang dimilikinya sehingga dapat menarik perhatian masyarakat. Karena, toko tradisional tidak akan pernah menang bersaing dengan minimarket jika tidak ada perubahan. Dengan adanya reformasi layout yang baru diharapkan dapat menjadi salah satu solusi bagi toko tradisional agar dapat bersaing dengan minimarket.
Kata Kunci : Toko tradisional, Layout


I.                    PENDAHULUAN
Perkembangan globalisasi yang melaju pesat pada saat ini sangat mempengaruhi kehidupan masyarakat di Indonesia, baik itu dari segi politik, sosial, budaya,ekonomi, bahkan gaya hidup sekalipun. Tidak dapat dipungkiri bahwa dampak negatif dari globalisasi ini tidak hanya berpengaruh pada masyarakat yang ada di perkotaan saja, tetapi sampai ke pelosok desa.
Pada saat ini, toko tradisional kadang kala dipandang sebelah mata dikarenakan sudah bermunculan toko-toko modern (minimarket) yang memberikan penawaran yang menarik, mulai dari diskon, desain interior dan eksterior bahkan sampai pada pelayanan yang dapat memuaskan konsumen. Pada saat ini, kehadiran minimarket tidak saja hanya berada di daerah perkotaan, tetapi sudah menjalar ke daerah pedesaan. Salah satu dampak dari berdirinya minimarket di pedesaan yakni dapat mengurangi omset para pemilik toko tradisional yang mayoritas merupakan penduduk lokal di pedesaan. Tidak sedikit dari mereka yang menggantungkan hidupnya pada penghasilan dari toko yang dimilikinya, oleh sebab itu, kehadiran minimarket sangat mempengaruhi kehidupan mereka.
Salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh pemilik toko tradisional untuk dapat bersaing dengan toko-toko modern (minimarket) adalah dengan cara mendesain ulang toko tradisional yang dimilikinya sehingga dapat menarik perhatian masyarakat. Karena, toko tradisional tidak akan pernah menang bersaing dengan minimarket jika tidak ada perubahan. Dengan adanya reformasi layout yang baru diharapkam dapat menjadi salah satu solusi bagi toko tradisional agar dapat bersaing dengan minimarket.
Toko tradisional yang diambil sebagai objek untuk di desain ulang adalah “Warung Ibu Yiyin” yang terletak di Kp. Barujaya RT.01 RW.03 Desa Sukamanah Kecamatan Pangalengan Kabupaten Bandung.
II.                 PEMBAHASAN
Toko tradisional atau yang lebih dikenal dengan sebutan “warung” merupakan usaha kecil milik keluarga yang biasa berbentuk kedai, kios, toko tradisional, bahkan restaurant sederhana. Toko tradisional ini sudah ada sejak jaman dahulu, bahkan pada masa Hindia-Belanda akhir abad ke-19. Konsep toko tradisional ini sangatlah sederhana, yaitu dengan mengandalkan relasi antar pemilik warung dengan pembeli. Rata-rata konsumen pada toko tradisional ini merupakan masyarakat sekitar yang ada atau yang biasa disebut dengan “tetangga”. Hal ini menyebabkan toko tradisional ini rutin dikunjungi oleh pembeli.
Namun, di era globalisasi seperti sekarang ini, toko tradisional kadang kala dipandang sebelah mata dikarenakan sudah bermunculan toko-toko modern (minimarket) yang memberikan penawaran yang menarik, mulai dari diskon, desain interior dan eksterior bahkan sampai pada pelayanan yang dapat memuaskan konsumen. Pada saat ini, kehadiran minimarket tidak saja hanya berada di daerah perkotaan, tetapi sudah menjalar ke daerah pedesaan. Salah satu dampak dari berdirinya minimarket di pedesaan yakni dapat mengurangi omset para pemilik toko tradisional yang mayoritas merupakan penduduk lokal di pedesaan. Tidak sedikit dari mereka yang menggantungkan hidupnya pada penghasilan dari toko yang dimilikinya, oleh sebab itu, kehadiran minimarket sangat mempengaruhi kehidupan mereka. Namun, terlepas dari itu semua, toko tradisional juga memiliki beberapa kelebihan.  Dalam hal ini, berikut merupakan table matrik SWOT untuk toko tradisional.


Tabel Matrik SWOT Untuk Toko Tradisional





Internal
Strength (S)
- Bersahabat terhadap pembeli
- Harga bisa ditawar
- Bisa beli eceran
- Dapat memenuhi pesanan untuk pelanggan
- Bisa berutang dan dibayar kemudian
Weakness (W)
- Bentuk toko tidak menarik
- Tata letak barang di dalam toko tidak diatur dengan nyaman
- Tidak selalu memperhatikan kenyamanan dan kebersihan
- Barang tidak lengkap
- Kurang penerangan lampu
- Kurang modal
Eksternal
Eksternal Pemilik toko tradisional dapat memanfaatkan kelemahan dari minimarket untuk dapat bertahan, yaitu dengan:
1. Secara langsung dapat memberikan fleksibilitas harga dengan tetap memperhatikan keuntungan
2. Tetap mempertahankan penjualan barang yang kuantitasnya sesuai kebutuhan pelanggan.
3. Sebagai pemilik langsung dari toko dan yang menjaga harus merasa memiliki lebih dibandingkan minimarket yang dijaga oleh orang lain, tentunya harus lebih ramah dalam pelayanan, lebih akrab.
4. Mau memenuhi apa yang dipesan pelanggan untuk belanja berikutnya dan menginformasikan apabila pesanan sudah ada.
5. Menyediakan layanan utang hanya untuk pelanggan terpercaya.

Untuk dapat bertahan pemilik toko tradisional dapat melakukan hal-hal berikut:
1. Walaupun dari sisi tampilan tempat dan tata letak barang kalah jauh, namun sisi fleksibilitas harga harus bisa dimanfaatkan dengan tetap memperhatikan keuntungan. Tampilan tempat dan tata letak barang harus bisa diupayakan oleh pemilik untuk diperbaiki.
2. Kebersihan dan kenyamanan harus dijaga. Bisa dengan menyediakan tempat duduk bagi yang menunggu untuk belanja, dengan memasang musik yang banyak disukai, penerangan yang cukup dll. untuk lebih memuaskan pelanggan. 
3. Barang yang tidak ada bisa diatasi melalui fasilitas pesanan yang tidak disediakan oleh minimarket.
4. Kekurangan modal dapat di atasi dengan hanya menyediakan barang yang frekuensi perputarannya cepat. Untuk barang yang tidak tersedia bisa di atasi dengan fasilitas pesanan tadi. 

Opportunity (O)
- Harga pas, sehingga harga tidak bisa ditawar
- Tidak bisa beli eceran
- Sebagian SPG kadang tidak ramah atau tidak sopan
- Barang yang bisa dibeli adalah hanya barang yang ada pada display.
Threats (T)
- Memiliki bentuk yang menarik
- Memiliki kenyamanan dalam ruang dan kebersihan
- Pelayanan yang baik kepada pembeli
- Selalu memunculkan promo baru dalam produk disertai potongan harga (diskon)
- Dilakukan penyaringan yang ketat terhadap produk yang dijual, sehingga dari segi kualitas tidak usah diragukan lagi
Minimarket memiliki banyak keunggulan, namun took tradisional pun punya keunggulan. Hal-hal berikut dapat dilakukan:
1. Dengan menyisihkan sebagian keuntungan, pemilik took tradisional dapat merenovasi sedikit took. Tentunya biayanya tidak akan sebesar renovasi minimarket. Buat konsep yang murah namun unik. Dan ingat usaha apapun memerlukan pengorbanan
2. Promo walaupun tak sebanyak dan sebesar minimarket, tetap masih bisa dilakukan oleh pemilik took tradisional. Dari sisi harga pemilik toko tradisional bisa lebih fleksibel menetapkan harga secara langsung dengan tetap memperhatikan keuntungan. Buat daftar harga pokok barang-barang sebagai patokan harga.
3. Manfaatkan keunggulan untuk dapat memenuhi pesanan pelanggan untuk barang tidak tersedia pada saat kita berbelanja persediaan. Biasanya pemilik toko tradisional berbelanja persediaan dengan intensitas yang cepat, bahkan setiap hari.

Walaupun minimarket memiliki banyak keunggulan, maka jangan terlalu fokus untuk menyaingi sisi keunggulan mereka. Sudah pasti took tradisional akan sulit bersaing dengan keterbatasannya. Hal-hal berikut dapat dilakukan:
1. Sisi kenyamanan dan kebersihan tetap bisa dijaga dengan cara berbeda, misal menyediakan tempat duduk untuk menunggu jika pelanggan banyak. Pasang musik sebagaimana halnya minimarket.
2. Cari grosir yang lebih besar menyediakan harga lebih murah dibanding minimarket walaupun tidak bisa sistem eceran. Dengan seperti itu took tradisional dapat menjual harga yang sama atau bahkan di bawah harga yang disediakan minimarket walaupun hanya untuk barang-barang tertentu apabila modal kecil beli barang-barang yang intensitas penjualannya tinggi. Berdasarkan pengalaman banyak grosir yang bisa menyediakan barang-barang yang harganya jauh lebih murah walau tidak dengan diecer.


Menurut Yoga Tantular Rachman dan Dandy Syaiful Akbar (2014) Toko tradisional yang diindikasikan terkena dampak langsung terhadap keuntungan akibat munculnya suatu minimarket yaitu toko tradisional (berdasarkan kriteria yang ditetapkan di dalam populasi sasaran) yang memiliki jarak antara 1 sampai 2 kilometer dengan minimarket.
Warung Ibu Yiyin merupakan salah satu toko tradisional yang letaknya kurang dari 1 kilometer dari minimarket. Oleh sebab itu, Warung Ibu Yiyin terkena dampak langsung dari kehadiran suatu minimarket. Warung Ibu Yiyin merupakan salah satu toko tradisional yang menjual barang secara eceran atau ritel. Barang-barang yang dijual antara lain convinence goods yang terdiri dari bahan-bahan pokok (staples goods) seperti obat-obatan, bahan makanan, sayuran, buah-buahan dan lain sebagainya, dan juga barang-barang yang dibeli karena dorongan hati sesaat (impulse goods) seperti permen, ice cream dan lain sebagainya. Selain itu, Warung Ibu Yiyin juga menjual pulsa untuk handphone dan juga pulsa token.
Oleh sebab itu, fokus utama yang akan dilakukan yaitu membangun suasana toko yang nyaman bagi pengunjungnya. Suasana toko merupakan salah satu dari bauran eceran yang memiliki arti penting dalam usaha ritel. Dengan adanya suasana toko yang baik akan menarik pengunjung untuk melakukan pembelian. Suasana toko terbagi atas 2 bagian, antara lain:
1.      Instrore Athmosphere
Instrore Athmosphere adalah pengaturan suasana toko di dalam ruangan yang menyangku beberapa hal, antara lain:
a.       Internal layout
Internal layout adalah pengaturan dari berbagai fasilitas dalam ruangan yang terdiri dari tata letak kursi untuk pengunjung, tata letak meja untuk pembayaran, dan tata letak lampu atau pencahayaan dan lain-lain.
b.      Suara
Suara merupakan keseluruhan alunan suara yang dihadirkan dalam ruangan untuk menciptakan rileks yang terdiri dari suara musik.
c.       Bau
Bau merupakan aroma-aroma yang dihadirkan dalam ruangan untuk menciptakan selera yang timbul dari aroma yang ditimbulkan oleh pewangi ruangan.
d.      Tekstur
Tekstur merupakan tampilan fisik dari bahan-bahan yang digunakan untuk barang-barang yang berada di dalam ruangan.
e.       Desain Interior
Desain interior merupakan penataan ruang-ruang dalam toko kesesuaian meliputi kesesuaian luas ruang untuk pengunjung dengan ruas jalan yang memberikan kenyamanan desain toko, penataan hiasan, penataan perlengkapan dan sistem pencahayaan di dalam ruangan.

2.      Outstrore Athmosphere
Outstore Athmosphere adalah pengaturan di luar ruangan yang menyangkut beberapa hal, antara lain:
a.       External layout
External layout merupakan pengaturan tata letak berbagai fasilitas toko di luar ruangan yang meliputi tata letak parkir untuk pengunjung, tata letak papan nama, dan lokasi yang strategis.
b.      Tekstur
Tekstur merupakan tampilan fisik dari bahan-bahan yang digunakan bangunan maupun fasilitas diluar ruangan yang meliputi tekstur dinding, bangunan luar ruangan dan tekstur papan nama di luar ruangan.
c.       Desain Interior
Desain interior merupakan penataan ruangan luar toko yang meilputi desain papan nama luar ruangan, penempatan pintu masuk, bentuk bangunan dilihat dari luar, dan sistem pencahayaan luar ruangan.

Berdasarkan data yang telah diterima sebelumnya, objek yang diambil berlokasi di kampung Barujaya RT.01 RW.03 Desa Sukamanah Kecamatan Pangalengan Kabupaten Bandung. Untuk mencari toko tersebut tidak teralalu sulit karena walupun masuk ke dalam gang, namun letaknya tidak terlalu jauh dari jalan raya. Jika dilihat dari tampak luar, toko ini dapat dikatakan kurang menarik karena berbagai faktor antara lain: beberapa barang dagangan kurang terawat, display barang dagangan yang kurang tertata rapih, pencahayaan yang kurang sehingga tampak gelap dari luar dan juga kurangnya perawatan terhadap peralatan yang ada. Selain itu, tempat sampah yang tidak ditutup sehingga terlihat masih berserakan.
Batas luar bangunan toko ini ialah rumah pribadinya ibu Yiyin sendiri, karena pada awalnya toko yang sekarang berdiri ini merupakan salah satu bagian dari ruangan rumah ibu Yiyin.
Konsep desain yang akan dirancang untuk toko ini bertujuan untuk menarik perhatian pengunjung dan melakukan pembelian.
Warung Ibu Yiyin ini cukup terkenal sampai ke kampung-kampung sekitarnya, namun, toko ini masih memiliki beberapa kelemahan, antara lain: toko ini masih belum dapat mempertahankan identitasnya yang kuat, pengelolaan toko yang monoton membuat daya tarik toko ini berkurang. Oleh karena itu, diperlukannya reformasi layout pada toko ini.

Gambar 1. Warung Ibu Yiyin tampak dari luar

Gambar 2. Warung Ibu Yiyin tampak dari dalam



Gambar 3. Display Showcase


Gambar 4. Display Buah-buahan yang bersebalahan dengan tabung gas LPJ
 Gambar 5. Display freezer ice cream
Pemilik toko men-display barang dagangannya tanpa mengklasifikasikannya terlebih dahulu. Oleh karena itu, selanjutnya dalam mereformasi layout untuk toko ini, akan di klasifikasikan terlebih dahulu berdasarkan jenis barangnya. Klasifikasi barang tersebut terbagi menjadi 2 bagian, antara lain:
1.      Food (Makanan)
Yang termasuk kedalam klasifikasi ini, dimulai dari makanan yang sudah jadi sampai bahan untuk makanan sekalipun.
Dalam men-display makanan ini, akan terbagi menjadi beberapa bagian.
a.       Buah-Buahan
Buah-buahan ini akan diletakan di rak yang poisinya dekat dengan freezer dan kulkas. Untuk menimbulkan kesan segar.
b.      Sayur-sayuran
Sayur-sayuran akan diletakkan dekat dengan buah-buahan. Karena dapat diasumsikan buah-buahan dan sayuran itu masih satu rumpun.
c.       Ice cream
Untuk ice cream akan diletakkan di dalam freezer.
d.      Minuman
Penempatan minuman akan dibagi menjadi 2 bagian. Yaitu di dalam showcase dan di dalam etalase. Pembagian ini dilakukan karena tidak semua konsumen yang berbelanja di Warung Ibu Yiyin menginginkan minuman yang tidak dingin, terkadang tidak sedikit dari mereka yang menginginkan minuman yang dingin. Oleh karena itu, penempatan minuman ini dibagi menjadi 2 bagian.
e.       Snack
Snack ini merupakan makanan yang biasa dikonsumsi oleh anak-anak kecil. Dalam hal ini snack akan di tempatkan dibagian depan untuk menarik perhatian dari anak-anak.
Berdasarkan hasil pengamatan selama ini, keinginan anak-anak terhadap sesuatu tidak dapat ditahan, berbeda dengan orang dewasa ketika menginginkan sesuatu masih bisa mereka tahan dengan mempertimbangkan beberapa hal, namun tidak untuk anak-anak.
Oleh karena itu, perhatian anak-anaklah yang harus kita curi terlebih dahulu. Salah satunya dengan memajangkan snack favorit mereka.
f.        Obat-obatan (yang dapat dikonsumsi)
Display obat-obatan sebelumnya sangatlah tidak tersusun dengan rapih. Selain itu, pemilik toko sering merasakan kesulitan dalam menemukan obat-obatan yang dibeli oleh konsumen. Hal itu terjadi karena obat-obatan di Warung Ibu Yiyin disatukan dalam satu tempat, sehingga sangat sulit untuk menemukan obat-obatan yang diinginkan konsumen. Oleh karena itu, obat-obatan akan di display dalam satu tempat tetapi akan di pisahkan berdasarkan merknya.
g.      Mie Instan
Mie instan yang dijual cukup bervariasi. Namun, pemilik toko sudah dapat men­-display mie instan dengan cukup baik. Oleh karena itu, untuk display mie instan akan tetap sama di tempat yang sebelumnya.
h.      Telur
Display telur sebelumnya tidak dapat dilihat oleh pengunjung karena diletakkan di bawah. Oleh sebab itu, telur akan di letakkan di atas agar dapat terlihat oleh para pengunjung
i.        Makanan lainnya
Makanan lainnya yang tidak disebutkan di atas akan didisplay dengan sebaik dan semenarik mungkin supaya dapat dilihat oleh pengunjung.
Selain itu, makanan akan di-display berdasarkan rumpunnya masing-masing.
Contoh: dalam membuat kue, bahan-bahan yang akan digunakan yaitu tepung terigu, mentega, baking powder, dll.
Bahan-bahan tersebut akan diletakan berdekatan.
2.      Nonfood
Yang termasuk ke dalam klasifikasi ini mulai dari perlengkapan mandi sampai tabung gas LPJ.
Dalam men-display barang-barang nonfood ini terbagi menjadi beberapa bagian, antara lain:
a.       Perlengkapan Mandi
Untuk perlengkapan mandi akan diletakkan di dalam etalase.
b.      Perlengkapan Mencuci
Perlengkapan mencuci seperti sabun cuci, sikat cuci, sabun cair, detergen, dan lain-lain akan diletakkan berdasarkan bentuk dari barang tersebut, ada yang akan dipajang di dalam etalase ada juga yang akan dipajang dengan cara digantungkan.
c.       Obat-obatan (yang tidak dapat dikonsumsi)
Obat-obatan yang tidak dapat dikonsumsi ini akan dipajang di dalam etalase.
d.      Gas LPJ
Gas LPJ sendiri akan diletakkan di bawah meja. Alasan gas LPJ diletakkan dibawah meja karena gas LPJ adalah karena gas LPJ tersebut berat, dan akan beresiko kalau ditempatkan sembarangan. Selain itu, toko tersebut tidak cukup luas, sehingga ada beberapa barang yang peletakannya harus seperti itu.

Dengan luas sekitar 4,6 m2 x 2,2 m2, toko tradisional ini akan direformasi menjadi seperti dibawah ini:

Gambar 6. Layout Warung Ibu Yiyin 2D

Gambar 7. Desain Warung Ibu Yiyin tampak depan

Gambar 8. Desain Warung Ibu Yiyin tampak dari atas
Gambar 9. Desain Warung Ibu Yiyin tampak dari samping
Gambar 10. Desain Warung Ibu Yiyin tampak dari atas



Gambar 11. Desain Warung Ibu Yiyin tampak dari atas

Beberapa peralatan yang diubah tata letaknya, seperti showcase dan freezer. Kedua peralatan tersebut diubah supaya lebih menarik perhatian orang yang lewat berlalu lalang, karena salah satu yang produk yang menarik dan tidak dimiliki oleh warung-warung sekitarnya yaitu freezer dan showcase. Oleh karena itu, peralatan seperti itu harus diletakkan di tempat yang dapat terlihat oleh orang yang lewat, sekalipun bukan pengunjung agar orang tahu bahwa di toko ini ada yang berbeda dan hanya dimiliki oleh toko ini sehingga jika suatu saat ada produk yang diinginkan oleh konsumen, mereka akan mengingat bahwa toko ini memiliki produk tersebut.
Selain itu, tempat sampah dibagi menjadi 3 kategori, yaitu sampah organik, anorganik dan B3 agar kedepannya sampah tersebut dapat dikelola dengan baik. Inovasi lain dalam tempat sampah ini yakni dengan menambahkan teknologi yang dapat membuat orang semangat untuk membuang sampah pada tempatnya.
Inovasi tersebut yakni jika ada yang membuang sampah pada tempat sampah tersebut, maka akan ada tulisan “Terimakasih telah membuang sampah pada tempatnya” pada display yang ada di tempat sampah tersebut. dengan adanya inovasi seperti ini, diharapkan pengunjung dan pemilik toko tidak membuang sampah sembarangan.
Selain itu, terdapat beberapa faktor fisik yang mempengaruhi suasana toko akan direformasi sehingga akan menjadi kekuatan untuk toko tersebut agar dapat bersaing dengan toko modern, faktor-faktor tersebut antara lain:
1.      Cahaya
Pencahayaan merupakan salah satu faktor yang penting untuk menarik perhatian pengunjung. Pencahayaan ini dapat mempengaruhi tingkat penjualan dari toko tersebut, karena pencahayaan yang baik dapat mempengaruhi konsumen, termasuk dalam pembelian.
Oleh karena itu, sistem pencahayaan yang akan digunakan yaitu dengan sistem pencahayaan langsung, dalam pencahayaan ini, jarak akan diatur sebaik mungkin agar tidak merusak mata.
2.      Warna
Warna merupakan sesuatu yang dapat mempengaruhi kondisi psikologis seseorang karena warna dapat mempengaruhi emosi dan otak seseorang. Oleh karena itu, pemilihan warna sangatlah penting. Mengingat warna dapat mempengaruhi pembelian konsumen. Maka dengan ini, warna yang digunakan yakni hijau dan biru. Alasan penggunaan warna tersebut yakni karena hijau dan biru yaitu karena warna tersebut memberikan efek ketenangan, ketentraman dan dapat mengurangi ketegangan pada otot.
3.      Udara
Setiap manusia pasti membutuhkan udara. Aliran udara yang baik akan membuat pengunjung sehat, tidak merasa kelelahan dan nyaman berada di ruangan tersebut.
Oleh karena itu, toko ini pun harus memiliki aliran udara yang baik dengan cara membuka jendela dan rolling door.
4.      Suara
Suara yang gaduh akan ketidaknyamanan pengunjung. Sekalipun toko tersebut sudah memiliki desain yang sempurna, jika di toko tersebut terdengar suara-suara yang tidak enak didengar maka pengunjung tidak akan merasa betah dan nyaman.
Dalam hal ini, Warung Ibu Yiyin sebenarnya tidak memiliki gangguan dalam suara. Namun, untuk membuat suasana toko lebih hidup, Ibu Yiyin menggunakan radio untuk menciptakan musik yang enak didengar. ,
Berkaitan dengan budaya dari masyarakat sekitar juga yang lebih menyukai musik dan lagu-lagu sunda, maka Ibu Yiyin memutarkan lagu-lagu yang biasa masyarakat sekitar dengarkan pula untuk menambah kenyamanan.

III.              PENUTUP
Kesimpulan
Perancangan tata ruang pada toko tradisional yang berada di perkampungan harus mengutamakan kenyamanan pengunjung, agar tercipta kepuasan pada konsumen. Kenyamanan dan kepuasan pengunjung dapat mendorong terciptanya pembelian.
Menciptakan kenyamanan dan kepuasan pada pelanggan merupakan salah satu upaya untuk menghadapi persaingan dari toko modern.
Kenyamanan dan kepuasan pelanggan dapat dibangun dengan menciptakan suasana toko yang baik. Untuk membangun suasana toko yang baik diperlukan pengorganisasian yang baik pula serta dengan memperhatikan lingkungan sekitar yang ada.
Dalam hal ini, menata ulang kembali (relayout) toko tradisional merupakan salah satu bentuk menciptakan suasana toko yang baik dengan memperhatikan beberapa faktor yang dapat mempengaruhinya, faktor-faktor tersebut yakni faktor cahaya, warna, udara, suara dan budaya. Selain itu, pengklasifikasian pada produk juga dilakukan untuk memudahkan pen-display-an.
Dengan penataan ulang tata letak toko tradisional dapat membantu toko tradisional dalam menghadapi persaingan yang ketat dengan toko modern, terutama bagi toko-toko tradisional yang jaraknya antara 1-2 kilometer dari toko modern.
Saran
Telah dijelaskan sebelumnya bahwa toko tradisional yang jaraknya antara 1-2 kilometer dengan toko modern akan terkena dampak yang signifikan yang langsung dan mempengaruhi omset penjualan serta keuntungan yang akan diperoleh. Dalam hal pengaturan jarak, tentunya itu merupakan kewenangan pemerintah, oleh karena itu, hal yang perlu dilakukan oleh toko-toko tradisional adalah dengan membuat inovasi, baik itu dalam pelayanan, baik itu pelayanan yang dilakukan oleh pemilik toko maupun pelayanan yang menggunakan sarana dan prasarana. Beberapa hal lain dapat dilakukan, namun perlu dikaji terkait improvisasi bisnis yang akan dilakukan.

IV.              DAFTAR PUSTAKA


Narita, Y., Mulyon , G., & Basuki , L. (2017). Redesign Interior Sweet Shop Fahion Store di Kota Salatiga. Jurnal Intra Vol.5 No.2, 647-652 .
Purwanto, G. I., & Ardana, I. (2016). Perancangan Interior Coffee House di Surabaya. Jurnal Intra Vol.4 No.2, 651-661.
Rachman, Y. T., & Akbar, D. S. (2014). ANALISIS KIAT TOKO TRADISIONAL (WARUNG) UNTUK BERTAHAN DITENGAH MARAKNYA MINIMARKET (TOKO MODERN) . 1-28.



LAMPIRAN









Tidak ada komentar:

Posting Komentar