Layout
Toko Tradisional di Pedesaan
Layout
of Traditional Shops in The Village
Mila
Puspita
Jurusan
Administrasi Niaga
Abstract
Traditional shops or better
known as "stall" is a family owned small business regular-shaped
shops, stalls, traditional shops, even a modest restaurant. These traditional
store has been around since antiquity, even the Netherlands East Indies during
the late 19th century. The concept of the traditional store is simple, i.e., by
relying on the relationship between the owner of the stall with the buyer. The
average consumer on this traditional store is a local community or commonly
referred to with the "neighbors". This led to the traditional stores
routinely visited by the buyer.
However, in the era of
globalization as it is today, traditional stores are sometimes considered one
eye because it's been popping up modern stores (stores) that gives an
interesting quote, from discount, interior design and exterior even up to
services that can satisfy the consumer. At the moment, the presence of the minimarket
is only not only in urban areas, but it has already spread to rural areas. One of the effects of the establishment of the minimart in rural areas i.e.
can reduce the turnover of the majority of the traditional shop owners is the
local residents in the countryside. Not a few of them who gave
up his life on the revenue from the store, therefore, the presence of minimarket
very affecting their lives.
One of the efforts that can
be made by traditional shop owners to be able to compete with modern stores (stores)
is in a way the traditional store redesign them so that it can attract the
attention of the community. Therefore, traditional shops will never won compete
with minimart if nothing changes. With the reform of the new layout is
expected to be one of the solutions to traditional shops to be able to compete
with the minimart.
Key words: traditional
Shops, Store Layout
Abstrak
Toko tradisional
atau yang lebih dikenal dengan sebutan “warung” merupakan usaha kecil milik
keluarga yang biasa berbentuk kedai, kios, toko tradisional, bahkan restaurant
sederhana. Toko tradisional ini sudah ada sejak jaman dahulu, bahkan pada masa
Hindia-Belanda akhir abad ke-19. Konsep toko tradisional ini sangatlah
sederhana, yaitu dengan mengandalkan relasi antar pemilik warung dengan
pembeli. Rata-rata konsumen pada toko tradisional ini merupakan masyarakat
sekitar yang ada atau yang biasa disebut dengan “tetangga”. Hal ini menyebabkan
toko tradisional ini rutin dikunjungi oleh pembeli.
Namun, di era
globalisasi seperti sekarang ini, toko tradisional kadang kala dipandang
sebelah mata dikarenakan sudah bermunculan toko-toko modern (minimarket) yang memberikan penawaran
yang menarik, mulai dari diskon, desain interior dan eksterior bahkan sampai
pada pelayanan yang dapat memuaskan konsumen. Pada saat ini, kehadiran minimarket tidak saja hanya berada di
daerah perkotaan, tetapi sudah menjalar ke daerah pedesaan. Salah satu dampak
dari berdirinya minimarket di
pedesaan yakni dapat mengurangi omset para pemilik toko tradisional yang
mayoritas merupakan penduduk lokal di pedesaan. Tidak sedikit dari mereka yang
menggantungkan hidupnya pada penghasilan dari toko yang dimilikinya, oleh sebab
itu, kehadiran minimarket sangat
mempengaruhi kehidupan mereka.
Salah satu upaya
yang dapat dilakukan oleh pemilik toko tradisional untuk dapat bersaing dengan
toko-toko modern (minimarket) adalah
dengan cara mendesain ulang toko tradisional yang dimilikinya sehingga dapat
menarik perhatian masyarakat. Karena, toko tradisional tidak akan pernah menang
bersaing dengan minimarket jika tidak
ada perubahan. Dengan adanya reformasi layout yang baru diharapkan dapat
menjadi salah satu solusi bagi toko tradisional agar dapat bersaing dengan minimarket.
Kata Kunci : Toko tradisional, Layout
I.
PENDAHULUAN
Perkembangan
globalisasi yang melaju pesat pada saat ini sangat mempengaruhi kehidupan
masyarakat di Indonesia, baik itu dari segi politik, sosial, budaya,ekonomi,
bahkan gaya hidup sekalipun. Tidak dapat dipungkiri bahwa dampak negatif dari
globalisasi ini tidak hanya berpengaruh pada masyarakat yang ada di perkotaan
saja, tetapi sampai ke pelosok desa.
Pada
saat ini, toko tradisional kadang kala dipandang sebelah mata dikarenakan sudah
bermunculan toko-toko modern (minimarket)
yang memberikan penawaran yang menarik, mulai dari diskon, desain interior dan
eksterior bahkan sampai pada pelayanan yang dapat memuaskan konsumen. Pada saat
ini, kehadiran minimarket tidak saja
hanya berada di daerah perkotaan, tetapi sudah menjalar ke daerah pedesaan.
Salah satu dampak dari berdirinya minimarket
di pedesaan yakni dapat mengurangi omset para pemilik toko tradisional yang
mayoritas merupakan penduduk lokal di pedesaan. Tidak sedikit dari mereka yang
menggantungkan hidupnya pada penghasilan dari toko yang dimilikinya, oleh sebab
itu, kehadiran minimarket sangat
mempengaruhi kehidupan mereka.
Salah
satu upaya yang dapat dilakukan oleh pemilik toko tradisional untuk dapat
bersaing dengan toko-toko modern (minimarket)
adalah dengan cara mendesain ulang toko tradisional yang dimilikinya sehingga
dapat menarik perhatian masyarakat. Karena, toko tradisional tidak akan pernah
menang bersaing dengan minimarket jika
tidak ada perubahan. Dengan adanya reformasi layout yang baru diharapkam dapat
menjadi salah satu solusi bagi toko tradisional agar dapat bersaing dengan minimarket.
Toko
tradisional yang diambil sebagai objek untuk di desain ulang adalah “Warung Ibu
Yiyin” yang terletak di Kp. Barujaya RT.01 RW.03 Desa Sukamanah Kecamatan
Pangalengan Kabupaten Bandung.
II.
PEMBAHASAN
Toko
tradisional atau yang lebih dikenal dengan sebutan “warung” merupakan usaha
kecil milik keluarga yang biasa berbentuk kedai, kios, toko tradisional, bahkan
restaurant sederhana. Toko tradisional ini sudah ada sejak jaman dahulu, bahkan
pada masa Hindia-Belanda akhir abad ke-19. Konsep toko tradisional ini
sangatlah sederhana, yaitu dengan mengandalkan relasi antar pemilik warung
dengan pembeli. Rata-rata konsumen pada toko tradisional ini merupakan
masyarakat sekitar yang ada atau yang biasa disebut dengan “tetangga”. Hal ini
menyebabkan toko tradisional ini rutin dikunjungi oleh pembeli.
Namun,
di era globalisasi seperti sekarang ini, toko tradisional kadang kala dipandang
sebelah mata dikarenakan sudah bermunculan toko-toko modern (minimarket) yang memberikan penawaran
yang menarik, mulai dari diskon, desain interior dan eksterior bahkan sampai
pada pelayanan yang dapat memuaskan konsumen. Pada saat ini, kehadiran minimarket tidak saja hanya berada di
daerah perkotaan, tetapi sudah menjalar ke daerah pedesaan. Salah satu dampak
dari berdirinya minimarket di
pedesaan yakni dapat mengurangi omset para pemilik toko tradisional yang
mayoritas merupakan penduduk lokal di pedesaan. Tidak sedikit dari mereka yang
menggantungkan hidupnya pada penghasilan dari toko yang dimilikinya, oleh sebab
itu, kehadiran minimarket sangat
mempengaruhi kehidupan mereka. Namun, terlepas dari itu semua, toko tradisional
juga memiliki beberapa kelebihan. Dalam
hal ini, berikut merupakan table matrik SWOT untuk toko tradisional.
Tabel Matrik SWOT
Untuk Toko Tradisional
Internal
|
Strength (S)
-
Bersahabat terhadap pembeli
-
Harga bisa ditawar
-
Bisa beli eceran
-
Dapat memenuhi pesanan untuk pelanggan
-
Bisa berutang dan dibayar kemudian
|
Weakness (W)
-
Bentuk toko tidak menarik
-
Tata letak barang di dalam toko tidak diatur dengan nyaman
-
Tidak selalu memperhatikan kenyamanan dan kebersihan
-
Barang tidak lengkap
-
Kurang penerangan lampu
-
Kurang modal
|
Eksternal
|
Eksternal
Pemilik toko tradisional dapat memanfaatkan kelemahan dari minimarket untuk
dapat bertahan, yaitu dengan:
1.
Secara langsung dapat memberikan fleksibilitas harga dengan tetap
memperhatikan keuntungan
2.
Tetap mempertahankan penjualan barang yang kuantitasnya sesuai kebutuhan
pelanggan.
3.
Sebagai pemilik langsung dari toko dan yang menjaga harus merasa memiliki
lebih dibandingkan minimarket yang dijaga oleh orang lain, tentunya harus
lebih ramah dalam pelayanan, lebih akrab.
4.
Mau memenuhi apa yang dipesan pelanggan untuk belanja berikutnya dan
menginformasikan apabila pesanan sudah ada.
5.
Menyediakan layanan utang hanya untuk pelanggan terpercaya.
|
Untuk
dapat bertahan pemilik toko tradisional dapat melakukan hal-hal berikut:
1.
Walaupun dari sisi tampilan tempat dan tata letak barang kalah jauh, namun
sisi fleksibilitas harga harus bisa dimanfaatkan dengan tetap memperhatikan
keuntungan. Tampilan tempat dan tata letak barang harus bisa diupayakan oleh
pemilik untuk diperbaiki.
2.
Kebersihan dan kenyamanan harus dijaga. Bisa dengan menyediakan tempat duduk
bagi yang menunggu untuk belanja, dengan memasang musik yang banyak disukai,
penerangan yang cukup dll. untuk lebih memuaskan pelanggan.
3.
Barang yang tidak ada bisa diatasi melalui fasilitas pesanan yang tidak
disediakan oleh minimarket.
4.
Kekurangan modal dapat di atasi dengan hanya menyediakan barang yang
frekuensi perputarannya cepat. Untuk barang yang tidak tersedia bisa di atasi
dengan fasilitas pesanan tadi.
|
Opportunity (O)
-
Harga pas, sehingga harga tidak bisa ditawar
-
Tidak bisa beli eceran
-
Sebagian SPG kadang tidak ramah atau tidak sopan
-
Barang yang bisa dibeli adalah hanya barang yang ada pada display.
|
||
Threats (T)
-
Memiliki bentuk yang menarik
- Memiliki
kenyamanan dalam ruang dan kebersihan
-
Pelayanan yang baik kepada pembeli
-
Selalu memunculkan promo baru dalam produk disertai potongan harga (diskon)
-
Dilakukan penyaringan yang ketat terhadap produk yang dijual, sehingga dari
segi kualitas tidak usah diragukan lagi
|
Minimarket
memiliki banyak keunggulan, namun took tradisional pun punya keunggulan.
Hal-hal berikut dapat dilakukan:
1.
Dengan menyisihkan sebagian keuntungan, pemilik took tradisional dapat
merenovasi sedikit took. Tentunya biayanya tidak akan sebesar renovasi
minimarket. Buat konsep yang murah namun unik. Dan ingat usaha apapun
memerlukan pengorbanan
2.
Promo walaupun tak sebanyak dan sebesar minimarket, tetap masih bisa
dilakukan oleh pemilik took tradisional. Dari sisi harga pemilik toko
tradisional bisa lebih fleksibel menetapkan harga secara langsung dengan
tetap memperhatikan keuntungan. Buat daftar harga pokok barang-barang sebagai
patokan harga.
3.
Manfaatkan keunggulan untuk dapat memenuhi pesanan pelanggan untuk barang
tidak tersedia pada saat kita berbelanja persediaan. Biasanya pemilik toko
tradisional berbelanja persediaan dengan intensitas yang cepat, bahkan setiap
hari.
|
Walaupun
minimarket memiliki banyak keunggulan, maka jangan terlalu fokus untuk
menyaingi sisi keunggulan mereka. Sudah pasti took tradisional akan sulit
bersaing dengan keterbatasannya. Hal-hal berikut dapat dilakukan:
1.
Sisi kenyamanan dan kebersihan tetap bisa dijaga dengan cara berbeda, misal
menyediakan tempat duduk untuk menunggu jika pelanggan banyak. Pasang musik
sebagaimana halnya minimarket.
2.
Cari grosir yang lebih besar menyediakan harga lebih murah dibanding
minimarket walaupun tidak bisa sistem eceran. Dengan seperti itu took
tradisional dapat menjual harga yang sama atau bahkan di bawah harga yang
disediakan minimarket walaupun hanya untuk barang-barang tertentu apabila
modal kecil beli barang-barang yang intensitas penjualannya tinggi.
Berdasarkan pengalaman banyak grosir yang bisa menyediakan barang-barang yang
harganya jauh lebih murah walau tidak dengan diecer.
|
Menurut
Yoga Tantular Rachman dan Dandy Syaiful Akbar (2014) Toko tradisional yang
diindikasikan terkena dampak langsung terhadap keuntungan akibat munculnya
suatu minimarket yaitu toko
tradisional (berdasarkan kriteria yang ditetapkan di dalam populasi sasaran) yang
memiliki jarak antara 1 sampai 2 kilometer dengan minimarket.
Warung
Ibu Yiyin merupakan salah satu toko tradisional yang letaknya kurang dari 1
kilometer dari minimarket. Oleh sebab
itu, Warung Ibu Yiyin terkena dampak langsung dari kehadiran suatu minimarket. Warung Ibu Yiyin merupakan salah
satu toko tradisional yang menjual barang secara eceran atau ritel.
Barang-barang yang dijual antara lain convinence
goods yang terdiri dari bahan-bahan pokok (staples goods) seperti obat-obatan, bahan makanan, sayuran,
buah-buahan dan lain sebagainya, dan juga barang-barang yang dibeli karena
dorongan hati sesaat (impulse goods)
seperti permen, ice cream dan lain
sebagainya. Selain itu, Warung Ibu Yiyin juga menjual pulsa untuk handphone dan juga pulsa token.
Oleh
sebab itu, fokus utama yang akan dilakukan yaitu membangun suasana toko yang
nyaman bagi pengunjungnya. Suasana toko merupakan salah satu dari bauran eceran
yang memiliki arti penting dalam usaha ritel. Dengan adanya suasana toko yang
baik akan menarik pengunjung untuk melakukan pembelian. Suasana toko terbagi
atas 2 bagian, antara lain:
1.
Instrore
Athmosphere
Instrore
Athmosphere adalah
pengaturan suasana toko di dalam ruangan yang menyangku beberapa hal, antara
lain:
a.
Internal
layout
Internal layout adalah pengaturan
dari berbagai fasilitas dalam ruangan yang terdiri dari tata letak kursi untuk pengunjung,
tata letak meja untuk pembayaran, dan tata letak lampu atau pencahayaan dan
lain-lain.
b.
Suara
Suara merupakan keseluruhan alunan suara
yang dihadirkan dalam ruangan untuk menciptakan rileks yang terdiri dari suara
musik.
c.
Bau
Bau merupakan aroma-aroma yang dihadirkan
dalam ruangan untuk menciptakan selera yang timbul dari aroma yang ditimbulkan
oleh pewangi ruangan.
d.
Tekstur
Tekstur merupakan tampilan fisik dari
bahan-bahan yang digunakan untuk barang-barang yang berada di dalam ruangan.
e.
Desain
Interior
Desain interior merupakan penataan
ruang-ruang dalam toko kesesuaian meliputi kesesuaian luas ruang untuk
pengunjung dengan ruas jalan yang memberikan kenyamanan desain toko, penataan
hiasan, penataan perlengkapan dan sistem pencahayaan di dalam ruangan.
2.
Outstrore
Athmosphere
Outstore
Athmosphere adalah
pengaturan di luar ruangan yang menyangkut beberapa hal, antara lain:
a.
External
layout
External layout merupakan pengaturan tata
letak berbagai fasilitas toko di luar ruangan yang meliputi tata letak parkir
untuk pengunjung, tata letak papan nama, dan lokasi yang strategis.
b.
Tekstur
Tekstur merupakan tampilan fisik dari
bahan-bahan yang digunakan bangunan maupun fasilitas diluar ruangan yang
meliputi tekstur dinding, bangunan luar ruangan dan tekstur papan nama di luar
ruangan.
c.
Desain
Interior
Desain interior merupakan penataan ruangan
luar toko yang meilputi desain papan nama luar ruangan, penempatan pintu masuk,
bentuk bangunan dilihat dari luar, dan sistem pencahayaan luar ruangan.
Berdasarkan data yang telah
diterima sebelumnya, objek yang diambil berlokasi di kampung Barujaya RT.01
RW.03 Desa Sukamanah Kecamatan Pangalengan Kabupaten Bandung. Untuk mencari
toko tersebut tidak teralalu sulit karena walupun masuk ke dalam gang, namun
letaknya tidak terlalu jauh dari jalan raya. Jika dilihat dari tampak luar,
toko ini dapat dikatakan kurang menarik karena berbagai faktor antara lain:
beberapa barang dagangan kurang terawat, display
barang dagangan yang kurang tertata rapih, pencahayaan yang kurang sehingga
tampak gelap dari luar dan juga kurangnya perawatan terhadap peralatan yang
ada. Selain itu, tempat sampah yang tidak ditutup sehingga terlihat masih
berserakan.
Batas luar bangunan toko ini ialah
rumah pribadinya ibu Yiyin sendiri, karena pada awalnya toko yang sekarang
berdiri ini merupakan salah satu bagian dari ruangan rumah ibu Yiyin.
Konsep desain yang akan dirancang untuk
toko ini bertujuan untuk menarik perhatian pengunjung dan melakukan pembelian.
Warung Ibu Yiyin ini cukup terkenal
sampai ke kampung-kampung sekitarnya, namun, toko ini masih memiliki beberapa
kelemahan, antara lain: toko ini masih belum dapat mempertahankan identitasnya
yang kuat, pengelolaan toko yang monoton membuat daya tarik toko ini berkurang.
Oleh karena itu, diperlukannya reformasi layout pada toko ini.
Gambar 1. Warung Ibu Yiyin tampak dari luar
Gambar 2. Warung Ibu Yiyin tampak dari dalam
Gambar
3. Display Showcase
Gambar 4. Display Buah-buahan yang bersebalahan dengan
tabung gas LPJ
Gambar 5. Display freezer ice cream
Pemilik toko men-display barang dagangannya tanpa
mengklasifikasikannya terlebih dahulu. Oleh karena itu, selanjutnya dalam
mereformasi layout untuk toko ini, akan di klasifikasikan terlebih dahulu
berdasarkan jenis barangnya. Klasifikasi barang tersebut terbagi menjadi 2
bagian, antara lain:
1.
Food (Makanan)
Yang termasuk kedalam klasifikasi ini,
dimulai dari makanan yang sudah jadi sampai bahan untuk makanan sekalipun.
Dalam men-display makanan ini, akan terbagi menjadi beberapa bagian.
a.
Buah-Buahan
Buah-buahan ini akan diletakan di rak yang
poisinya dekat dengan freezer dan
kulkas. Untuk menimbulkan kesan segar.
b.
Sayur-sayuran
Sayur-sayuran akan diletakkan dekat dengan
buah-buahan. Karena dapat diasumsikan buah-buahan dan sayuran itu masih satu
rumpun.
c.
Ice cream
Untuk ice
cream akan diletakkan di dalam freezer.
d.
Minuman
Penempatan minuman akan dibagi menjadi 2
bagian. Yaitu di dalam showcase dan di dalam etalase. Pembagian ini dilakukan karena tidak semua konsumen yang
berbelanja di Warung Ibu Yiyin menginginkan minuman yang tidak dingin,
terkadang tidak sedikit dari mereka yang menginginkan minuman yang dingin. Oleh
karena itu, penempatan minuman ini dibagi menjadi 2 bagian.
e.
Snack
Snack ini merupakan
makanan yang biasa dikonsumsi oleh anak-anak kecil. Dalam hal ini snack akan di
tempatkan dibagian depan untuk menarik perhatian dari anak-anak.
Berdasarkan hasil pengamatan selama ini,
keinginan anak-anak terhadap sesuatu tidak dapat ditahan, berbeda dengan orang
dewasa ketika menginginkan sesuatu masih bisa mereka tahan dengan
mempertimbangkan beberapa hal, namun tidak untuk anak-anak.
Oleh karena itu, perhatian anak-anaklah
yang harus kita curi terlebih dahulu. Salah satunya dengan memajangkan snack favorit mereka.
f.
Obat-obatan
(yang dapat dikonsumsi)
Display obat-obatan
sebelumnya sangatlah tidak tersusun dengan rapih. Selain itu, pemilik toko
sering merasakan kesulitan dalam menemukan obat-obatan yang dibeli oleh
konsumen. Hal itu terjadi karena obat-obatan di Warung Ibu Yiyin disatukan
dalam satu tempat, sehingga sangat sulit untuk menemukan obat-obatan yang
diinginkan konsumen. Oleh karena itu, obat-obatan akan di display dalam satu
tempat tetapi akan di pisahkan berdasarkan merknya.
g.
Mie
Instan
Mie instan yang dijual cukup bervariasi.
Namun, pemilik toko sudah dapat men-display
mie instan dengan cukup baik. Oleh karena itu, untuk display mie instan akan tetap sama di tempat yang sebelumnya.
h.
Telur
Display telur sebelumnya
tidak dapat dilihat oleh pengunjung karena diletakkan di bawah. Oleh sebab itu,
telur akan di letakkan di atas agar dapat terlihat oleh para pengunjung
i.
Makanan
lainnya
Makanan lainnya yang tidak disebutkan di
atas akan didisplay dengan sebaik dan
semenarik mungkin supaya dapat dilihat oleh pengunjung.
Selain itu, makanan akan di-display berdasarkan rumpunnya
masing-masing.
Contoh: dalam membuat kue, bahan-bahan
yang akan digunakan yaitu tepung terigu, mentega, baking powder, dll.
Bahan-bahan tersebut akan diletakan
berdekatan.
2.
Nonfood
Yang termasuk ke dalam klasifikasi ini
mulai dari perlengkapan mandi sampai tabung gas LPJ.
Dalam men-display barang-barang nonfood ini terbagi menjadi beberapa bagian,
antara lain:
a.
Perlengkapan
Mandi
Untuk perlengkapan mandi akan diletakkan
di dalam etalase.
b.
Perlengkapan
Mencuci
Perlengkapan mencuci seperti sabun cuci,
sikat cuci, sabun cair, detergen, dan lain-lain akan diletakkan berdasarkan
bentuk dari barang tersebut, ada yang akan dipajang di dalam etalase ada juga yang akan dipajang
dengan cara digantungkan.
c.
Obat-obatan
(yang tidak dapat dikonsumsi)
Obat-obatan yang tidak dapat dikonsumsi
ini akan dipajang di dalam etalase.
d.
Gas
LPJ
Gas LPJ sendiri akan diletakkan di bawah
meja. Alasan gas LPJ diletakkan dibawah meja karena gas LPJ adalah karena gas
LPJ tersebut berat, dan akan beresiko kalau ditempatkan sembarangan. Selain
itu, toko tersebut tidak cukup luas, sehingga ada beberapa barang yang
peletakannya harus seperti itu.
Dengan luas sekitar 4,6 m2 x
2,2 m2, toko tradisional ini akan direformasi menjadi seperti
dibawah ini:
Gambar 6. Layout Warung Ibu Yiyin 2D
Gambar 7. Desain Warung Ibu Yiyin tampak depan
Gambar 8. Desain
Warung Ibu Yiyin tampak dari atas
Gambar 9. Desain Warung Ibu Yiyin tampak dari samping
Gambar
10. Desain Warung Ibu Yiyin tampak dari atas
Gambar
11. Desain Warung Ibu Yiyin tampak dari atas
Beberapa
peralatan yang diubah tata letaknya, seperti showcase dan freezer. Kedua
peralatan tersebut diubah supaya lebih menarik perhatian orang yang lewat
berlalu lalang, karena salah satu yang produk yang menarik dan tidak dimiliki
oleh warung-warung sekitarnya yaitu freezer
dan showcase. Oleh karena itu,
peralatan seperti itu harus diletakkan di tempat yang dapat terlihat oleh orang
yang lewat, sekalipun bukan pengunjung agar orang tahu bahwa di toko ini ada
yang berbeda dan hanya dimiliki oleh toko ini sehingga jika suatu saat ada
produk yang diinginkan oleh konsumen, mereka akan mengingat bahwa toko ini
memiliki produk tersebut.
Selain
itu, tempat sampah dibagi menjadi 3 kategori, yaitu sampah organik, anorganik
dan B3 agar kedepannya sampah tersebut dapat dikelola dengan baik. Inovasi lain
dalam tempat sampah ini yakni dengan menambahkan teknologi yang dapat membuat
orang semangat untuk membuang sampah pada tempatnya.
Inovasi
tersebut yakni jika ada yang membuang sampah pada tempat sampah tersebut, maka
akan ada tulisan “Terimakasih telah
membuang sampah pada tempatnya” pada display
yang ada di tempat sampah tersebut. dengan adanya inovasi seperti ini,
diharapkan pengunjung dan pemilik toko tidak membuang sampah sembarangan.
Selain
itu, terdapat beberapa faktor fisik yang mempengaruhi suasana toko akan
direformasi sehingga akan menjadi kekuatan untuk toko tersebut agar dapat
bersaing dengan toko modern, faktor-faktor tersebut antara lain:
1. Cahaya
Pencahayaan
merupakan salah satu faktor yang penting untuk menarik perhatian pengunjung.
Pencahayaan ini dapat mempengaruhi tingkat penjualan dari toko tersebut, karena
pencahayaan yang baik dapat mempengaruhi konsumen, termasuk dalam pembelian.
Oleh karena itu,
sistem pencahayaan yang akan digunakan yaitu dengan sistem pencahayaan
langsung, dalam pencahayaan ini, jarak akan diatur sebaik mungkin agar tidak
merusak mata.
2. Warna
Warna merupakan
sesuatu yang dapat mempengaruhi kondisi psikologis seseorang karena warna dapat
mempengaruhi emosi dan otak seseorang. Oleh karena itu, pemilihan warna
sangatlah penting. Mengingat warna dapat mempengaruhi pembelian konsumen. Maka
dengan ini, warna yang digunakan yakni hijau dan biru. Alasan penggunaan warna
tersebut yakni karena hijau dan biru yaitu karena warna tersebut memberikan
efek ketenangan, ketentraman dan dapat mengurangi ketegangan pada otot.
3. Udara
Setiap manusia
pasti membutuhkan udara. Aliran udara yang baik akan membuat pengunjung sehat,
tidak merasa kelelahan dan nyaman berada di ruangan tersebut.
Oleh karena itu,
toko ini pun harus memiliki aliran udara yang baik dengan cara membuka jendela
dan rolling door.
4. Suara
Suara yang gaduh
akan ketidaknyamanan pengunjung. Sekalipun toko tersebut sudah memiliki desain
yang sempurna, jika di toko tersebut terdengar suara-suara yang tidak enak
didengar maka pengunjung tidak akan merasa betah dan nyaman.
Dalam hal ini,
Warung Ibu Yiyin sebenarnya tidak memiliki gangguan dalam suara. Namun, untuk
membuat suasana toko lebih hidup, Ibu Yiyin menggunakan radio untuk menciptakan
musik yang enak didengar. ,
Berkaitan dengan
budaya dari masyarakat sekitar juga yang lebih menyukai musik dan lagu-lagu
sunda, maka Ibu Yiyin memutarkan lagu-lagu yang biasa masyarakat sekitar
dengarkan pula untuk menambah kenyamanan.
III.
PENUTUP
Kesimpulan
Perancangan tata ruang pada toko
tradisional yang berada di perkampungan harus mengutamakan kenyamanan
pengunjung, agar tercipta kepuasan pada konsumen. Kenyamanan dan kepuasan
pengunjung dapat mendorong terciptanya pembelian.
Menciptakan kenyamanan dan kepuasan pada
pelanggan merupakan salah satu upaya untuk menghadapi persaingan dari toko
modern.
Kenyamanan dan kepuasan pelanggan dapat
dibangun dengan menciptakan suasana toko yang baik. Untuk membangun suasana
toko yang baik diperlukan pengorganisasian yang baik pula serta dengan
memperhatikan lingkungan sekitar yang ada.
Dalam hal ini, menata ulang kembali (relayout) toko tradisional merupakan
salah satu bentuk menciptakan suasana toko yang baik dengan memperhatikan
beberapa faktor yang dapat mempengaruhinya, faktor-faktor tersebut yakni faktor
cahaya, warna, udara, suara dan budaya. Selain itu, pengklasifikasian pada
produk juga dilakukan untuk memudahkan pen-display-an.
Dengan penataan ulang tata letak toko
tradisional dapat membantu toko tradisional dalam menghadapi persaingan yang
ketat dengan toko modern, terutama bagi toko-toko tradisional yang jaraknya
antara 1-2 kilometer dari toko modern.
Saran
Telah dijelaskan sebelumnya bahwa toko
tradisional yang jaraknya antara 1-2 kilometer dengan toko modern akan terkena
dampak yang signifikan yang langsung dan mempengaruhi omset penjualan serta
keuntungan yang akan diperoleh. Dalam hal pengaturan jarak, tentunya itu
merupakan kewenangan pemerintah, oleh karena itu, hal yang perlu dilakukan oleh
toko-toko tradisional adalah dengan membuat inovasi, baik itu dalam pelayanan,
baik itu pelayanan yang dilakukan oleh pemilik toko maupun pelayanan yang
menggunakan sarana dan prasarana. Beberapa hal lain dapat dilakukan, namun
perlu dikaji terkait improvisasi bisnis yang akan dilakukan.
IV.
DAFTAR PUSTAKA
Narita, Y., Mulyon , G., & Basuki , L. (2017).
Redesign Interior Sweet Shop Fahion Store di Kota Salatiga. Jurnal Intra
Vol.5 No.2, 647-652 .
Purwanto, G. I., & Ardana, I. (2016). Perancangan Interior Coffee
House di Surabaya. Jurnal Intra Vol.4 No.2, 651-661.
Rachman, Y. T., & Akbar, D. S. (2014). ANALISIS KIAT TOKO
TRADISIONAL (WARUNG) UNTUK BERTAHAN DITENGAH MARAKNYA MINIMARKET (TOKO
MODERN) . 1-28.
LAMPIRAN






